27
Jun
2013
FESTIVAL GEROBAK SAPI YOGYAKARTA DAN JAWA TENGAH
558 views

FESTIVAL GEROBAK SAPI YOGYAKARTA DAN JAWA TENGAH

Naskah dan Foto : Dwi Oblo

Suara “klonthong…klonthong…” yang terdengar dari kalung sapi ketika berjalan beriringan di sepanjang jalan kampung Maguwoharjo menambah semarak festival gerobak sapi siang itu. Masyarakat di sepanjang pinggir jalan menyambut antusias dengan melembaikan tangan ketika lewat di depannya.

Kurang lebih 170 gerobak sapi dari Yogyakarta dan Jawa Tengah ikut ambil bagian dalam Festival Gerobak Sapi yang diselenggarakan pada tanggal 16 Juni 2013. Mereka menghias gerobaknya dengan hasil panen dan kertas berwarna-warni untuk memperebutkan piala bergilir dan uang pembinaan dari Sri Sulatan Hamengku Buwono X. Start dimulai dari stadion Maguwoharjo kemudian berjalan sepanjang 2,5 km mengelilingi kampung dan berakhir di tempat yang sama.

Acara ini deselenggarakan oleh pemuda Karang Taruna Malangrejo, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta bekerjasama dengan Pemerindah Daerah Kabupaten Sleman dan didukung oleh beberapa sponsor diharapkan menjadi acara atraksi wisata tahunan yang bisa menyedot wisatawan baik lokal dan mancanegara.

Berbagai tulisan menyebutkan bahwa gerobak sapi merupakan alat transportasi yang muncul sejak jaman Majapahit dan disebut-sebut dalam berbagai prasasti, yaitu kendaraan dengan dua roda yang rangkanya terbuat dari balok kayu, berdinding dan beratap anyaman bambu sebagai bodinya. Untuk menahan sinar matahari dan tampias hujan dipasanglah karung goni sebagai asesoris. Dinding bagian luar biasanya dihisai oleh tulisan dan di cat warna-warni agar lebih menarik.

Kendaraan ini ditarik oleh dua ekor sapi yang dirangkai sedemikian rupa, kemudian rangkain itu dihubungkan dengan tali ke tangan kusir (bajingan) untuk mengendalikannya. “Bajingan” menggunakan pecut untuk memecut sapi ketika sapi tidak mengindahkan perintahnya. Pada leher sapi dikalungi lonceng yang terbuat dari logam kuningan yang berfungsi sebagai horn. Untuk menahan laju kendaraan dipasang rem yang terbuat dari balok kayu pada roda bagian belakang. Balok dihubungkan dengan tuas yang akan ditarik oleh asistennya.

Kendaraan ini biasa dipakai sebagai pengangkut hasil panen dari kebun ke rumah, yang kemungkinan besar pemiliknya mempunyai tingkat ekonomi yang lumayan tinggi, karena butuh puluhan juta untuk membeli sapi dan gerobaknya.

Saat ini Gerobak sapi merupakan kendaraan kelangenan saja, jarang ditemukan di jalan-jalan di kota, karena selain merepotkan di jalanan juga menjadi pemandangan yang tidak umum. Festival kali ini merupakan usaha untuk melestarikannya bahwa kendaraan ini pernah ada di bumi nusantara sebagai alat transportasi yang penting pada jamannya.