28
Jul
2013
SEPENGGAL KISAH PARA PENCARI EMAS
394 views

SEPENGGAL KISAH PARA PENCARI EMAS

Foto & Naskah : Yohanes Kurnia Irawan

 

Suara gemuruh mesin dompeng mulai menggema, sesaat kemudian air yang disedot dari mesin  keluar melalui pipa yang dialirkan ke tempat penyaringan yang sudah di alas karpet dari kain, dan para pekerja pun mulai sibuk berusaha menyedot air lumpur bercampur pasir dan berharap membawa kandungan emas. Selanjutnya, dari tempat penyaringan, karpet tersebut mereka bawa ke tempat pencucian karpet dan mendulang campuran untuk memisahkan pasir dan emas. Begitulah gambaran  aktivitas para pekerja ini.  Mereka mulai bekerja dari pagi hingga sore hari demi mendapatkan emas, melakukan perkerjaan yang penuh dengan resiko.

Ada ratusan set mesin dompeng yang beroperasi di lokasi ini, dan tersebar di beberapa tempat. Satu set mesin biasanya dikerjakan 6-7 orang pekerja.  Untuk upah yang mereka dapat, biasanya menggunakan sistem pembagian 70:30 dari hasil yang diperoleh, namun ada juga yang menggunakan sistem kerja harian. Sejauh ini, para pekerja menyadari aktivitas yang mereka lakukan adalah ilegal, karena melakukan aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) yang dikelola atau dimiliki bos mereka secara perorangan di lokasi ini. Hidup para pekerja ini bergantung dari hasil emas yang diperoleh, yang akan digunakan untuk berbagai kebutuhan hidup mereka.

Lokasi pertambangan emas ini berada di danau Serantangan, Desa Sagatani yang berjarak sekitar 20km dari Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Para pekerja ini kebanyakan berasal dari luar daerah, yang mengadu nasib bekerja menjadi pekerja dompeng, sebutan bagi mereka yang bekerja mencari emas dengan cara ini. Bahkan ada dari antara mereka yang membawa serta istri dan anaknya selama mereka berada di lokasi penambangan. Mereka tinggal di pondok-pondok kecil  atau kamp yang dibangun untuk tempat mereka beristirahat. Di lokasi ini juga tersedia beberapa kantin yang memenuhi kebutuhan para penambang, mulai dari kebutuhan pribadi, sembako, hingga minuman beralkohol. Suasana di lokasi ini pun mirip perkampungan, ada canda tawa serta harapan yang terpancar dari raut wajah mereka. Namun sayang, aktivitas yang dilakukan para pekerja ini masih bertentangan dengan hukum yang berlaku.